Sebait Puisi Dari Tunanetra, Seribu Buku Untuk Tunanetra
info No Comments »Yayasan Mitra Netra (YMN), bekerja sama dengan Voice of Human Rights (VHR), Perkumpulan Seni Indonesia (PSI) dan Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta, meluncurkan antologi puisi karya seorang tunanetra Irwan Dwi Kustanto dan keluarganya, bertajuk Angin Pun Berbisik, bertempat di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ). Acara ini diselenggarakan untuk memperingati hari Braille yang jatuh pada 4 Januari, serta dua tahun gerakan Seribu Buku Untuk Tunanetra (30 Januari). Sebagian hasil penjualan antologi puisi ini akan digunakan untuk membiayai sosialisasi gerakan Seribu Buku Untuk Tunanetra, serta produksi dan distribusi buku bagi kelompok yang punya hambatan penglihatan ini di Indonesia.Acara diawali dengan diskusi bedah buku Angin Pun Berbisik, yang menghadirkan guru besar sastra Universitas Indonesia Melani Budianta, penyair dari Yogya Joko Pinurbo, serta Irwan Dwi Kustanto, penulis.
Peluncuran antologi ini ditandai dengan dialog antara puisi dan musik, yang dipresentasikan oleh Irwan Dwi Kustanto & Siti Atmamiah (penulis), berkolaborasi dengan Marusya Nainggolan – pianis yang juga menjabat sebagai direktur GKJ, beserta skolastika ansambel. Usai dialog puisi dan musik yang berlangsung kurang lebih lima belas menit ini, Irwan sang Penulis kemudian menyerahkan cenderamata berupa puisi dalam bingkai, yang dicetak baik dalam huruf Braille maupun huruf biasa kepada beberapa tamu undangan kehormatan.
Menyertai peluncuran antologi ini, serangkaian pertunjukan seni, baik musik, teater serta pembacaan puisi digelar di atas panggung GKJ. Diawali dengan pentas teater Meldict (Melihat Dengan Ilmu dan Cinta); sebuah kelompok teater yang beranggotakan siswa dan mahasiswa tunanetra; serta pembacaan puisi oleh para seniman seperti Dewi Lestari, Joko Pinurbo, Rieke Diah Pitaloka, dan Zeffa Yurihana – siswa kelas 6 SD yang juga salah seorang penulis dalam antologi Angin Pun Berbisik. Musikalisasi puisi juga mewarnai panggung GKJ, yang masing-masing disajikan oleh Riko & Dody – mahasiswa tunanetra, Endah & Reza – pasangan yang belakangan ini mulai melahirkan album indi mereka, serta Jodhi Yudono – seniman yang juga wartawan.
Angin Pun Berbisik adalah antologi puisi pertama di Indonesia yang disusun oleh sebuah keluarga. Irwan Dwi Kustanto (ayah), Siti Atmamiah (ibu) dan Zeffa Yurihana (anak), selama beberapa tahun telah menuangkan pikiran dan perasaan mereka dalam kata-kata indah berupa puisi.
“Sejujurnya saya bukanlah penyair. Angin Pun Berbisik adalah kata-kata yang saya coba kumpulkan untuk mengekspresikan perasaan, hasrat, dan semua yang pernah tumpah karena cinta yang mengalir dari kekasih, keluarga, sahabat, alam dan mungkin, Tuhan. Angin Pun Berbisik hanyalah sebuah perjalanan anak manusia, yang jejaknya tersibak oleh huruf. Saya hanyalah debu yang melukis kaki-kakinya pada jalan itu,” ungkap Irwan, sang penulis.