<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>Gerakan 1000 Buku untuk Tuna Netra</title>
	<atom:link href="http://bukutunanetra.dagdigdug.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bukutunanetra.dagdigdug.com</link>
	<description>Matahatimu Matahariku</description>
	<pubDate>Fri, 14 Nov 2008 12:38:07 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Sebait Puisi Dari Tunanetra, Seribu Buku Untuk Tunanetra</title>
		<link>http://bukutunanetra.dagdigdug.com/2008/11/14/sebait-puisi-dari-tunanetra-seribu-buku-untuk-tunanetra/</link>
		<comments>http://bukutunanetra.dagdigdug.com/2008/11/14/sebait-puisi-dari-tunanetra-seribu-buku-untuk-tunanetra/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Nov 2008 12:25:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bukutunanetra</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[info]]></category>

		<category><![CDATA[buku braille]]></category>

		<category><![CDATA[tuna netra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bukutunanetra.dagdigdug.com/2008/11/14/sebait-puisi-dari-tunanetra-seribu-buku-untuk-tunanetra/</guid>
		<description><![CDATA[Yayasan Mitra Netra (YMN), bekerja sama dengan Voice of Human  Rights (VHR), Perkumpulan Seni Indonesia (PSI) dan Komite Sastra Dewan Kesenian  Jakarta, meluncurkan antologi puisi karya seorang tunanetra Irwan Dwi Kustanto  dan keluarganya, bertajuk Angin Pun Berbisik, bertempat di Gedung  Kesenian Jakarta (GKJ). Acara ini diselenggarakan untuk memperingati hari  Braille [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Yayasan Mitra Netra (YMN), bekerja sama dengan Voice of Human  Rights (VHR), Perkumpulan Seni Indonesia (PSI) dan Komite Sastra Dewan Kesenian  Jakarta, meluncurkan antologi puisi karya seorang tunanetra Irwan Dwi Kustanto  dan keluarganya, bertajuk <em><strong>Angin Pun Berbisik</strong></em>, bertempat di Gedung  Kesenian Jakarta (GKJ). Acara ini diselenggarakan untuk memperingati hari  Braille yang jatuh pada 4 Januari, serta dua tahun gerakan Seribu Buku Untuk  Tunanetra (30 Januari). Sebagian hasil penjualan antologi puisi ini akan  digunakan untuk membiayai sosialisasi gerakan Seribu Buku Untuk Tunanetra, serta  produksi dan distribusi buku bagi kelompok yang punya hambatan penglihatan ini  di Indonesia.Acara diawali dengan diskusi bedah buku <em><strong>Angin Pun Berbisik</strong></em>,  yang menghadirkan guru besar sastra Universitas Indonesia Melani Budianta,  penyair dari Yogya Joko Pinurbo, serta Irwan Dwi Kustanto, penulis.</p>
<p>Peluncuran antologi ini ditandai dengan dialog antara puisi dan musik, yang  dipresentasikan oleh Irwan Dwi Kustanto &amp; Siti Atmamiah (penulis), berkolaborasi  dengan Marusya Nainggolan – pianis yang juga menjabat sebagai direktur GKJ,  beserta skolastika ansambel. Usai dialog puisi dan musik yang berlangsung kurang  lebih lima belas menit ini, Irwan sang Penulis kemudian menyerahkan cenderamata  berupa puisi dalam bingkai, yang dicetak baik dalam huruf Braille maupun huruf  biasa kepada beberapa tamu undangan kehormatan.</p>
<p>Menyertai peluncuran antologi ini, serangkaian pertunjukan seni, baik musik,  teater serta pembacaan puisi digelar di atas panggung GKJ. Diawali dengan pentas  teater Meldict (Melihat Dengan Ilmu dan Cinta); sebuah kelompok teater yang  beranggotakan siswa dan mahasiswa tunanetra; serta pembacaan puisi oleh para  seniman seperti Dewi Lestari, Joko Pinurbo, Rieke Diah Pitaloka, dan Zeffa  Yurihana – siswa kelas 6 SD yang juga salah seorang penulis dalam antologi <em> <strong>Angin Pun Berbisik</strong></em>. Musikalisasi puisi juga mewarnai panggung GKJ,  yang masing-masing disajikan oleh Riko &amp; Dody – mahasiswa tunanetra, Endah &amp;  Reza – pasangan yang belakangan ini mulai melahirkan album indi mereka, serta  Jodhi Yudono – seniman yang juga wartawan.</p>
<p><em><strong>Angin Pun Berbisik</strong></em> adalah antologi puisi pertama di Indonesia  yang disusun oleh sebuah keluarga. Irwan Dwi Kustanto (ayah), Siti Atmamiah  (ibu) dan Zeffa Yurihana (anak), selama beberapa tahun telah menuangkan pikiran  dan perasaan mereka dalam kata-kata indah berupa puisi.</p>
<p>&#8220;Sejujurnya saya bukanlah penyair. <em><strong>Angin Pun Berbisik</strong></em> adalah  kata-kata yang saya coba kumpulkan untuk mengekspresikan perasaan, hasrat, dan  semua yang pernah tumpah karena cinta yang mengalir dari kekasih, keluarga,  sahabat, alam dan mungkin, Tuhan. <em><strong>Angin Pun Berbisik</strong></em> hanyalah  sebuah perjalanan anak manusia, yang jejaknya tersibak oleh huruf. Saya hanyalah  debu yang melukis kaki-kakinya pada jalan itu,&#8221; ungkap Irwan, sang penulis.</p>
<p class="akst_link"><a rel="nofollow" href="http://bukutunanetra.dagdigdug.com/?p=3&amp;akst_action=share-this"  title="E-mail this, post to del.icio.us, etc." id="akst_link_3" class="akst_share_link">Berbagi</a>
</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bukutunanetra.dagdigdug.com/2008/11/14/sebait-puisi-dari-tunanetra-seribu-buku-untuk-tunanetra/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
